BNI Tokyo Ungkap Strategi Ekspansi Startup Indonesia ke Jepang, Tekankan Keunggulan Jaringan dan Kepatuhan Ganda
Depok, Stapo.id - Head of BNI Tokyo Branch, Hariadi Hendrawan, membagikan wawasan strategis terkait peran perbankan dalam mendukung ekspansi startup Indonesia ke pasar Jepang, dalam acara Scaling Across Borders: ERIA Startup Case Study Launch yang digelar di Sentral Senayan II, Jakarta, pada 23 Januari 2026 yang lalu. Dalam forum yang mempertemukan pemangku kepentingan startup dan investor tersebut, BNI Tokyo menegaskan posisinya sebagai jembatan finansial yang menghubungkan ekosistem bisnis Indonesia dengan Jepang.
Hariadi menyampaikan bahwa BNI Tokyo memiliki peran strategis tidak hanya dalam mendukung entitas korporasi berskala besar, tetapi juga individu Warga Negara Indonesia yang menjalankan usaha di Jepang. Menurutnya, keberadaan cabang BNI di Tokyo memberikan keuntungan kompetitif bagi pelaku usaha Indonesia karena mampu menjembatani kebutuhan bisnis lintas negara dengan pendekatan yang memahami karakter pasar lokal dan internasional sekaligus.
Ia menjelaskan bahwa salah satu kekuatan utama BNI Tokyo terletak pada kombinasi keahlian lokal Indonesia dan pemahaman mendalam terhadap sistem keuangan Jepang. Hal ini memungkinkan nasabah memanfaatkan jaringan BNI di dalam negeri sekaligus akses perbankan di Jepang dalam satu ekosistem layanan yang terintegrasi. Keunggulan ini dinilai krusial bagi startup yang tengah merintis pasar global, khususnya di Jepang yang dikenal memiliki standar regulasi dan kepatuhan tinggi.
Dalam paparannya, Hariadi juga mengulas proses pembukaan rekening di BNI Tokyo yang disebutnya relatif sederhana namun tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Persyaratan utama meliputi dokumen identitas, surat keterangan domisili atau certificate of residence, serta dokumen pendukung lain yang menunjukkan keterkaitan aktivitas bisnis calon nasabah dengan Jepang. Ia menegaskan bahwa kelengkapan dokumen menjadi fondasi penting untuk memastikan kelancaran hubungan perbankan jangka panjang.
Lebih jauh, Hariadi menyoroti aspek kepatuhan regulasi sebagai faktor krusial dalam mendukung ekspansi startup ke Jepang. BNI Tokyo berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan di Indonesia serta Financial Services Agency di Jepang, sehingga menerapkan standar kepatuhan ganda atau dual regulation. Kondisi ini membuat bank harus memahami secara detail cakupan bisnis dan profil transaksi setiap nasabah.
Menurutnya, pemahaman mendalam terhadap model bisnis nasabah bukan semata untuk kepentingan administratif, melainkan sebagai bagian dari praktik terbaik dalam perbankan internasional. Dengan mengenali lebih jauh aktivitas usaha dan pola transaksi yang direncanakan, bank dapat memberikan layanan yang lebih tepat sekaligus memastikan seluruh aktivitas berjalan sesuai koridor regulasi di kedua negara.
Paparan BNI Tokyo ini menjadi salah satu sorotan dalam acara ERIA tersebut, mengingat Jepang masih menjadi salah satu pasar yang sangat diminati startup Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Namun, perbedaan sistem hukum, budaya bisnis, serta regulasi kerap menjadi tantangan tersendiri bagi startup yang ingin berekspansi. Dalam konteks inilah, peran lembaga keuangan yang memahami kedua pasar dinilai semakin strategis.
Melalui forum ini, BNI Tokyo menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar menjadi penyedia layanan finansial, tetapi juga mitra strategis bagi startup Indonesia yang ingin menembus pasar Jepang secara berkelanjutan dan patuh regulasi.
