Ashitae, Startup IP Jepang Bidik Pasar Indonesia Melalui Film Pendek dan Drama
Depok, Stapo.id - Ashitae and Tomorrow, sebuah perusahaan rintisan Kekayaan Intelektual atau Intellectual Property asal Jepang yang bergerak di bidang produksi konten visual, menyatakan keseriusannya untuk menjajaki pasar Indonesia melalui kolaborasi film pendek dan drama. Ketertarikan ini disampaikan langsung oleh Chief Creative Producer Ashitae and Tomorrow, Terachi Shinichi, dalam rangkaian acara Tokyo ASEAN Bridge yang digelar di Ayana MidPlaza Jasmine, Jakarta, pada 15 Januari 2026.
Ashitae, yang berarti besok atau tomorrow dalam bahasa Jepang, didirikan pada 2022 dengan visi membangun IP yang mampu menembus pasar global. Dalam waktu relatif singkat, startup ini telah menghasilkan sejumlah film pendek yang meraih apresiasi di berbagai festival film internasional, sekaligus memproduksi drama pendek yang menyasar audiens digital. Capaian tersebut menjadi fondasi penting bagi Ashitae untuk mulai melihat Asia Tenggara, khususnya Indonesia, sebagai pasar strategis berikutnya.
Terachi menjelaskan bahwa pendekatan Ashitae dalam mengembangkan IP berbeda dengan kebanyakan studio konvensional. Perusahaan ini menggabungkan proses kreatif dengan sudut pandang pemasaran sejak tahap awal pengembangan cerita. Latar belakang Terachi yang berpengalaman dalam adaptasi IP Jepang ke film-film Hollywood, dipadukan dengan mitra bisnis yang berasal dari dunia pemasaran, menjadi kekuatan utama dalam merancang konten yang tidak hanya kuat secara artistik, tetapi juga relevan secara komersial di pasar internasional.
Dalam paparannya, Terachi juga menyinggung tantangan industri konten Jepang yang saat ini pertumbuhannya dinilai masih tertinggal dibandingkan negara lain. Menurutnya, salah satu kendala utama adalah kecenderungan pelaku industri yang terlalu fokus pada pasar domestik, minimnya pengalaman penjualan internasional, serta pengembangan IP yang belum sepenuhnya berbasis pada pemikiran pemasaran global. Kondisi ini mendorong Ashitae untuk sejak awal membangun strategi ekspansi lintas negara.
Indonesia dinilai memiliki potensi besar karena tingginya minat penonton terhadap film pendek dan drama dari berbagai negara. Terachi melihat format drama pendek sebagai medium yang sangat efektif untuk menjangkau audiens muda, terutama di era platform digital dan media sosial. Ia menilai tren drama pendek juga tengah bertumbuh di Jepang dan berpotensi berkembang lebih cepat di Indonesia, seiring dengan karakter pasar yang dinamis dan konsumsi konten yang tinggi.
Melalui Tokyo ASEAN Bridge, Ashitae membuka peluang kerja sama dengan kreator lokal, rumah produksi, hingga mitra strategis di Indonesia untuk memproduksi IP secara bersama atau co-production. Langkah ini diharapkan tidak hanya memperluas jangkauan pasar Ashitae, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi konten Indonesia untuk tampil di panggung global melalui jejaring internasional yang dimiliki startup tersebut.

