KabarPilihan

IKAPUNIJA Tegaskan Alumni Harus Jadi ‘Infinite Game’ untuk Jamin Lapangan Kerja

Jakarta, Stapo.id – Ikatan Keluarga Alumni Politeknik Universitas Indonesia dan Politeknik Negeri Jakarta (IKAPUNIJA) periode 2025-2029 menyatakan komitmen penuh untuk membangun jaring kerja alumni yang kuat guna menjawab tingginya kekhawatiran lulusan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) terkait lapangan pekerjaan.

Hal ini disampaikan oleh Ketua BPP IKAPUNIJA 2025-2029, R Roro Dwi Handayani, dalam acara pelantikan di Gedung Perpustakaan PNJ, 14 Desember 2025. Roro menyoroti kondisi sosial ekonomi saat ini, yang menurutnya membuat para lulusan merasa cemas.

“Kondisi Indonesia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Banyak masalah yang sedang terjadi,” ujar Roro, seraya menanyakan kekhawatiran kepada hadirin, “Agak khawatir enggak sih jadi alumni Politeknik hari ini? Bagaimana mungkin kita bisa melakukan persaingan di dunia kerja?”

Roro menegaskan bahwa kunci sukses bagi alumni bukan lagi hanya berfokus pada diri sendiri, melainkan pada kontribusi untuk orang lain. Ke depan, ia menargetkan IKAPUNIJA menjadi “Infinite game” dan “sustainable program.”

Target besarnya adalah “membangun koorperatisasi alumni, karena alumni itu bukan hanya nama alumni adalah orkestrasi dan menambah menjadi conected of the dots.” Roro juga menekankan bahwa prioritas utama rakyat Indonesia adalah kesempatan kerja. “Apa yang dibutuhkan rakyat Indonesia? Pertama, Lapangan pekerjaan nomor dua lapangan pekerjaan dan ketiga lapangan pekerjaan,” tegasnya.

Peran Alumni Sangat Vital

Menurut Roro, peran alumni sangat vital dalam menciptakan networking yang kuat. Ia secara lugas menyatakan, “Kalau enggak punya networking, bisa dapat kerja enggak? Susah ya. Kalau enggak punya teman di perusahaan, enggak punya orang dalam, kira-kira masih dapat kerja enggak? Susah.” Oleh karena itu, IKAPUNIJA berkomitmen memastikan bahwa setiap lulusan memiliki jaminan *networking* dengan senior yang tersebar di berbagai perusahaan besar, seperti Pertamina Gas, Telkom, dan lainnya.

Roro menutup paparannya dengan menekankan bahwa kesuksesan akan diraih oleh mereka yang memiliki visi besar. “Orang yang memiliki energi besar dan mimpi besar adalah orang yang akan sukses di masa depan, bahwa ketika bermimpi itu dapat dicapai.”

Reorientasi Peran Ikatan Alumni dalam Menghadapi Rigiditas Pasar Kerja

Pernyataan mengenai krusialnya jejaring profesional di tengah ketidakpastian ekonomi nasional mencerminkan realitas pahit bahwa kompetensi teknis saja tidak lagi cukup untuk menjamin keterserapan tenaga kerja. Dalam lanskap industri yang semakin kompetitif, fenomena “orang dalam” atau internal referral sebaiknya tidak lagi dipandang secara peyoratif sebagai praktik nepotisme, melainkan sebagai bentuk validasi sosial dan efisiensi rekrutmen bagi perusahaan. Peran ikatan alumni dalam konteks ini bertransformasi dari sekadar wadah nostalgia menjadi sebuah ekosistem pendukung strategis yang berfungsi sebagai jembatan kepercayaan antara talenta baru dengan pemangku kepentingan di industri besar.

Secara sosiologis, pembangunan networking yang terstruktur melalui organisasi alumni merupakan upaya mitigasi risiko pengangguran terdidik yang angkanya masih menjadi tantangan besar bagi institusi pendidikan vokasi. Riset mengenai efektivitas pencarian kerja menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen posisi pekerjaan diisi melalui jaringan personal yang tidak dipublikasikan secara terbuka ke pasar tenaga kerja umum. Dengan mengorkestrasi ribuan senior yang telah menduduki posisi strategis di BUMN maupun korporasi multinasional, sebuah ikatan alumni dapat memangkas hambatan informasi dan memberikan akses prioritas bagi lulusan baru untuk menunjukkan potensi mereka secara langsung kepada pengambil keputusan.

Langkah untuk membangun “kooperatisasi alumni” juga memberikan dimensi ekonomi baru yang lebih berkelanjutan dibandingkan sekadar program bantuan sosial temporer. Model ini memungkinkan terjadinya perputaran nilai ekonomi di dalam internal komunitas, di mana alumni yang telah mapan dapat menjadi mentor sekaligus investor bagi unit bisnis yang dirintis oleh sesama alumni. Visi untuk menjadikan organisasi sebagai infinite game menuntut konsistensi dalam regenerasi kepemimpinan dan keberlanjutan program yang tidak bergantung pada figur semata, melainkan pada sistem yang mampu menghubungkan titik-titik potensi (connecting the dots) di berbagai sektor industri secara otomatis.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah institusi pendidikan vokasi saat ini tidak hanya diukur dari kurikulumnya, tetapi dari seberapa kuat “jaring pengaman” yang disediakan oleh komunitas alumninya. Komitmen untuk memberikan jaminan akses jejaring bagi setiap lulusan adalah bentuk nyata dari tanggung jawab moral kolektif dalam menjaga marwah almamater di mata publik. Di tengah ketidakpastian global, energi dan mimpi besar para lulusan harus didukung oleh struktur dukungan yang konkret, sehingga kecemasan akan masa depan dapat diubah menjadi ambisi yang produktif untuk berkontribusi bagi kemajuan ekonomi nasional secara lebih inklusif.